Momentum Sumpah Pemuda; Sebuah Refleksi


28 Oktober 1920 lalu menjadi sebuah peristiwa yang bersejarah bagi bangsa ini. Melalui kesadaran yang utuh, tiap-tiap pemuda yang berasal dari latar belakang kedaerahan yang berbeda-beda, berkumpul dalam sebuah agenda yang kelak akan dikenang sebagai momentum bersejarah; sumpah pemuda. Momentum tersebut menjadi bersejarah karena, saat itu tiap poros pemuda yang berbeda latar kedaerahan itu bermufakat untuk menegasikan identitas-identitas kedaerahan mereka, dan mengganti identitas mereka yang primordial tersebut dengan sebuah identitas yang jauh lebih besar dari pada sebelumnya; Bangsa Indonesia.

Setelah peristiwa itu, tidak ada lagi jong java, atau jong sumatera, atau jong celebes, serta jong islamiten bond. Kesemua identitas primordial itu melebur menjadi sebuah identitas kolektif yang mampu menampung semua semangat sektoral.

Dalam tulisannya, Anis Matta menjelaskan bahwa peristiwa sumpah pemuda adalah peristiwa yang menandai berakhirnya gelombang sejarah indonesia yang pertama. Gelombang sejarah yang pertama itu ditandai dengan kelahiran sebuah entitas baru, yang berdasarkan kesamaan nasib dan takdir sejarah, sama-sama dijajah oleh Belanda. Entitas itu adalah bangsa indonesia. Gelombang kedua ditandai dengan lahirnya sebuah negara-bangsa yang baru; Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan gelombang ketiga ditandai dengan peristiwa reformasi yang bergulir di tahun 1998, dengan kejatuhan Rezim Orde Baru, serta kemunculan Rezim Reformasi yang berlandaskan kekuatan sipil dan sistem demokrasi substansial. (Gelombang Ketiga Indonesia, Anis Matta: 2014).

Pemuda-pemuda itu menyadari bahwa tantangan yang mereka hadapi saat itu, jauh lebih besar dibandingkan cara mereka merespon tantangan tersebut. Bagi mereka, identitas primordial tersebut, sudah tidak mampu lagi menjadi faktor resisten dalam menghadapi penjajahan dari Negara Kolonial Belanda. Mereka harus bersatu. Maka tercapailah sebuah mufakat yang bulat; bertanah air satu, bertumpah darah satu, berbahasa satu; Indonesia.

Dampak dari mufakat tersebut sangat besar bagi kemerdekaan Indonesia. Setelahnya, lahirlah gerakan-gerakan dari pemuda yang menggunakan kata “indonesia”, sekaligus gerakan-gerakan tersebut, berorientasi pada semangat persatuan (melampaui semangat primordial tadi) dan lingkup perjuangannya bukan lagi terbatas pada satu daerah saja, namun melingkupi daerah-daerah yang hari ini menjadi bagian dari NKRI. Gerakan seperti Sarekat Islam (SI) yang dimotori oleh H.O.S. Tjokroaminoto, kemudian Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Pendidikan) yang dimotori Bung Hatta dan Sjahrir, atau Perindo (Persatuan Indonesia) yang dimotori Bung Karno, mencirikan sebuah gerakan yang berorientasi pada terciptanya ‘front nasional’ dari ujung barat nusantara, hingga ujung timurnya.

Keruan saja kesadaran tentang semangat persatuan dan hakikat tentang nasionalisme ini semakin memperkokoh posisi tawar tiap-tiap pergerakan tersebut, di mata Belanda. Kesadaran tentang ‘wawasan nasional’ ini seolah-olah menjadi tanda bagi bangsa yang besar ini untuk sesegera mungkin melepaskan dirinya dari cengkraman penjajahan Belanda. Tiap-tiap pemuda yang terlibat di dalam pergerakan, menjadikan bacaan-bacaan tentang paham nasionalisme, serta tokoh-tokoh yang mempioneri paham tersebut, sebagai bacaan wajib, agar pergerakan ke depan tidak lagi bersandar hanya kepada semangat dan perasaan emosional sesaat saja, namun juga didorong oleh ilmu pengetahuan dan wawasan yang mendalam tentang jalan perjuangan ini.

Generasi Revolusioner

Harus diakui memang saat itu kita tidak kekurangan tokoh-tokoh pemuda yang memiliki signifikasi yang besar dalam perjuangan kemerdekaan. Diparuh pertama masa-masa pergerakan nasional, kita memiliki nama-nama semacam Bung Karno, Bung Hatta, ataupun Bung Sjahrir. Diparuh kedua, kita bisa menyebut nama seperti M. Natsir, Wikana, Sayuti Melik, atau Soepono.

Tentu Mereka semua bukanlah jenis manusia yang menurut Herbert Marcuse sebagai ‘Manusia Satu Dimensi’. Bagi kita semua, mereka adalah jenis manusia yang memiliki banyak dimensi di dalam tiap-tiap karakternya. Ada suatu ketika kita teringat dengan sumpah nyeleneh Bung Hatta yang tidak akan menikah, sampai Indonesia merdeka. Atau ketika kita mengenang tentang sisi manusiawi Bung Karno yang dalam otobiografinya, “Penyambung Lidah Rakyat”, jatuh cinta kepada perempuan peranakan Eropa, namun cintanya kandas dikarenakan perbedaan suku-bangsa. Atau ketika Bung Natsir yang dengan posisinya sebagai Perdana Menteri, kemana-mana selalu menggunakan jas yang penuh tambalan. Itu semua menjadi cerita manis yang menyempurnakan tiap-tiap aktor sejarah tersebut.

Betapapun manusiawinya mereka semua, harus kita akui bahwa mereka semua adalah salah satu, atau mungkin satu-satunya, generasi revolusioner yang pernah lahir dari rahim ibu pertiwi. Sebuah generasi yang lahir ditengah ketidak-adilan sistem global pada waktu itu; Kolonialisme yang begitu ganas dalam melahap semua potensi sumber daya alam, bahkan sumber daya manusia, yang berada pada belahan dunia kedua dan ketiga (Afrika, Asia, Australia dan Amerika Latin). Namun, meskipun begitu, mereka lebih memilih sebuah jalan hidup yang penuh ujian dan cobaan. Mereka melawan, dan mereka berhasil.

Pengorbanan mereka bukanlah main-main. Bung Hatta ataupun Bung Karno, bisa saja sebenarnya memilih hidup enak sebagai kaki-tangan pemerintahan kolonial Belanda. Namun mereka menepis opsi itu. Mereka jujur terhadap hati nurani mereka sendiri, bahwa merekalah, satu dari sedikit anak negeri yang mampu membimbing rakyat indonesia untuk melepaskan diri dari sistem yang begitu tiran ini.

Mereka menginsyafi resiko yang akan mereka hadapi ke depan; dikucilkan, dipenjara, menjadi interniran di pulau-pulau terluar Nusantara, atau bahkan resiko yang paling tragis; Mati karena bedil-bedil dari penjajah. Akan tetapi mereka tabah. Dalam memoar sekaligus otobiografinya, Bung Hatta menuturkan secara rinci dan runut bagaimana dirinya menghadapi semua resiko itu dengan hati yang lapang. Masa-masa sulit ketika dia menghabiskan hari-harinya di Pulau Banda Neira, di timur Indonesia, sangatlah mengandung hikmah bagi generasi masa depan. Keyakinan tentang perjuangan, serta keteguhan dirilah, yang membuat dirinya mampu melewati saat-saat sulit pada waktu itu. (Untukmu Negeri: Memoar dan Otobiografi, Moh. Hatta: 2015).

Masa depan sebuah bangsa hanya bisa dirubah berdasarkan kerja-kerja sebuah generasi. Sebab, sebuah bangsa, tidaklah mungkin diubah oleh kerja satu orang saja. Itu sangatlah tidak cukup. Akan tetapi, jika sebuah generasi menjadi penyokong dan menjadi poros dari perubahan sebuah bangsa, maka cepat ataupun lambat, perubahan itu akan menjadi sebuah kenyataan.

Indonesia membutuhkan sebuah generasi yang memiliki kesadaran sejarah untuk melakukan tugas-tugas bersejarah tersebut. Sebuah rangkaian manusia-manusia indonesia yang membingkai dirinya di dalam sebuah ‘Generasi Indonesia’, dan menjemput takdirnya untuk menjadikan negeri ini menjadi sebuah negara besar yang mampu disegani oleh dunia internasional. Tidak ada lagi cerita tentang intervensi asing, tidak ada lagi berita tentang ‘kolonialisme gaya baru’ yang menyedot sumber daya alam kita dengan harga murah dan tak bermoral, dan tidak ada lagi kabar yang menyebutkan bahwa negeri ini dipenuhi manusia-manusia oportunis, yang hanya menghamba kepada materi dan kekuasaan semata.

Siklus Dua Puluh Tahunan

Ada yang menarik dengan siklus sejarah negeri ini. Jika kita perhatikan secara seksama, negeri ini, tanpa kita sadari, seolah memiliki ‘time series’-nya sendiri di dalam melakukan pengulangan-pengulangan, ataupun di dalam melahirkan suatu momentum bersejarah. Saya menyebutnya ‘siklus dua puluh tahunan’. Memang siklus ini tidak kaku benar dalam penetapan waktunya, akan tetapi, jika kita cermati sejarah bangsa kita, siklus sejarah kita selalu muncul disetiap dua puluh tahunan sekali (kurang-lebih).

Jika kita coba runut-runut lebih awal, bangsa ini, dalam begitu banyak literatur-literatur sejarah, mulai mengalami fase kesadaran nasional di awal tahun 1900-an. Kelahiran Budi Utomo, Sarekat Dagang Islam, dan Organisasi-organisasi sejenis, ada pada medio waktu tersebut. Sekitar lebih-kurang dua puluh tahun kemudian, lahirlah inisiatif dari pemuda-pemuda seantero nusantara untuk menyelenggarakan sebuah agenda yang kemudian kita kenang dengan sebutan ‘Sumpah Pemuda’ (1928).

Sekitar dua puluh tahunan kemudian, kita berhasil merdeka (1945) dengan ditandai deklarasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, serta terbentuknya struktur pemerintahan dan konstitusi kita setelahnya, secara berurutan. Sekitar dua puluh tahun kemudian, pada tahun 1965 pecahlah peristiwa pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang lebih kita kenal dengan sebutan G30S/PKI. Peristiwa itu melahirkan Rezim Orde Baru, dan berakhirnya Rezim Orde Lama. Sekitar lebih dari dua puluh tahun kemudian, mulai muncul gerakan-gerakan dari grass root untuk mengkoreksi dan menumbangkan Orde Baru, namun gerakan itu baru mencapai klimaksnya di tahun 1998, ditandai dengan kelahiran Orde Reformasi, dan runtuhnya Orde Baru.

Di tahun 2018 ini, sebenarnya kita tengah merayakan 20 tahun masa reformasi. Dimana kita berhasil melepaskan diri dari tirani yang membelenggu kebebasan fundamental kita sebagai seorang manusia; berserikat, berbicara, mengkritik, dan sebagainya. Akan tetapi, dua puluh tahun reformasi, kita sama sekali tidak kunjung mendekatkan diri kita dengan cita-cita luhur bangsa ini, sebagaimana yang telah dituliskan oleh founding father kita dalam konstitusi. Sehingga, beberapa kalangan mulai meragukan jalan reformasi yang telah kita tempuh selama ini. Bahkan, mulai ada suara-suara minor yang menghendaki agar kita kembali kepada rezim sebelumnya.

Hal ini menjadi wajar, sebab, justru setelah dua puluh tahun kita hidup di bawah naungan reformasi, kita malah mengalami sebuah disorientasi. Memang ada faktor dari Elit negeri kita yang semakin sibuk dengan agenda-agenda oportunisme mereka, namun, ini juga menjadi semakin sempurna, sebab, generasi mudanya sama sekali tidak memiliki kesadaran untuk mengubah keadaan. Hingga hari ini, belum ada inisiatif yang signifikan dari generasi muda untuk muncul ke permukaan, dan memimpin perubahan. Tentu, perubahan tersebut adalah perubahan yang bersumber dari pemikiran yang mendalam tentang historisitas bangsa kita, dan dikoneksikan dengan cita-cita bangsa kita yang telah diukir di dalam konstitusi kita.

Akankah, setelah 20 tahun reformasi, akan menjadi momentum kebangkitan generasi muda indonesia, yang terusik dan gelisah jiwa serta fikirannya, disebabkan terlalu banyaknya hal-hal yang tidak bersesuaian dengan cita-cita bangsa. Generasi revolusioner yang siap mengubah wajah indonesia agar menjadi lebih bermartabat, dan berdaulat di segala lini kehidupannya, dan sebuah generasi yang sanggup menahan getir dan ujian, selama masa-masa perjuangannya dalam mewujudkan cita-cita tersebut, juga memahami konsekwensi dalam menempuh jalan perjuangan ini.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa medan menulis, tidak semudah medan tindakan. Namun bagaimanapun, tulisan ini diharapkan akan menjadi pemantik, dan pendorong bagi lahirnya sebuah generasi yang mampu menyambung kerja-kerja para pendahulu bangsa, untuk melihat agar sang garuda bisa terbang tinggi di langit biru, menembus cakrawala. Bukan seperti hari ini, seperti burung perkutut, yang hanya bisa terbang rendah seadanya, tanpa pernah mempersoalkan wibawa atau pula harga diri bangsa.

***

oleh Alip D Pratama

(Manager Kemitraan Sinergi Sriwijaya)

Hits: 2

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *