Moral Siswa Terabaikan, Siapa yang Salah?


Lagi dan lagi dunia pendidikan nasional berduka. Seorang guru senior di SMK NU 03 Kaliwungu Kendal mengalami kejadian yang tidak terduga sebelumnya. Beberapa siswa mempermainkan seorang guru senior layaknya teman bermain sehari-hari. Sungguh disayangkan, apakah pendidikan sekarang justru bukan membuat siswa terdidik atau siswa yang mau dididik malah tidak mau mendapatkan pendidikan ? mari kita ulas.

Terlepas dari kasus memilukan di atas, ini kemudian menjadi momentum bagi lembaga pendidikan nasional dan seluruh instrumennya untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh. Apa, mengapa, bagaimana yang sebenarnya terjadi dengan dunia pendidikan kita sekarang?

Krisis moral siswa semakin mengancam bangsa ini. Kita boleh percaya, boleh juga tidak. Tindak kenakalan siswa sekolah yang cenderung mengarah kepada perbuatan yang tidak terpuji ini sudah menjadi fenomena atau bisa dibilang hal yang biasa di negeri ini, justru terkadang tindakan tersebut mereka katakana sebuah tindakan yang keren dan lucu.

Mengapa generasi sekolah mudah sekali berperilaku tidak sopan dan cenderung nakal? Kuncinya ada di sistem pengajaran dan pendidikan serta harmonisasi kehidupan siswa dalam keluarga. Ketika nilai-nilai agama tidak lagi ampuh mengarahkan moral manusia, maka tak ada lagi rasa saling sayang menyayangi antar sesama.

Sekolah beserta seluruh instrumennya, mungkin sedikit sekali memberikan pengajaran dan pemahaman kepada para siswa tentang sisi moralitas berbagai persoalan kemanusiaan. Selama ini, siswa hanya dicekoki ilmu teks buku dan menghamba kepada pelajaran teori-teori ilmu pasti. Ini membuat mindset kebanyakan siswa menjadi terpaku dengan hal-hal yang bersifat logis, yang membuatnya kurang mendalami hal-hal yang berkedok moral dan sopan santun

Di sisi lain, waktu terus berkejaran dengan etika budaya baru dan aktivitas humanistik yang terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Dalam hal ini, sekolah cenderung lalai dalam mengajarkan siswanya untuk menyelami realitas sosial yang bersifat masif. Akibatnya, siswa tidak lagi mempunyai moral dan terjebak kepada perilaku sadistik dan egoistik.

Kali ini penulis akan mencoba merangkum apa yang semestinya diperbaiki dari segi sistem pendidikan (masalah internal). Untuk dapat membentuk moral siswanya menjadi baik maka ada beberapa persyaratan kompetensi yang harus dimiliki oleh sang guru tersebut yaitu :

Pertama, mari kita bahas masalah internal yaitu sistem pendidikan. Disini penulis garis bawahi tentang guru, kompetensi kepribadiannya. Sebagai seorang guru yang baik hendaknya harus mempunyai kepribadian yang baik pula. Kepribadian yang baik maksudanya adalah kepribadian yang bertakwa kepada Allah swt, dimana kepribadian ini dapat untuk kemudian dapat tercerminkan melalui tutur kata yang sopan. Sebagai seorang guru sudah sepantasnya bertutur kata yang baik dan terarah.

Cara berpakaian yang sopan contohnya, seorang guru juga harus dapat mencerminkan kepribadiannya dari hal yang paling sederhana seperti memakai pakaian yang rapi dalam kehidupan mengajar sehari-hari di sekolah. Walaupun di rumah kepribadian yang dimiliki seorang guru harus tetap terjaga karena guru tidak hanya menjadi cendekiawan yang terkenal melainkan juga sebagai panutan masyarakat. Perilaku yang baik, sopan, solidaritas yang tinggi juga harus dimiliki oleh seorang guru untuk kemudian dapat dicontoh oleh siswa dan masyarakat sekitar.

Kedua, seorang guru harus berperan serta dalam membimbing peserta didiknya. Inilah yang dinamakan kompetensi pedagogik. Guru yang baik harus dapat mengarahkan perilaku peserta didik apabila kurang benar. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi saja di dalam pendidikan saja (indoor) terutama di sekolah. Namun guru juga harus memprioritaskan moral peserta didiknya.

Kalau guru hanya mengedepankan prestasi akademik dan pemahaman materi saja kepada siswa, ini kemudian tidak akan menjamin setiap siswa mempunyai kepribadian yang baik. Di sisi lain belajar tidak hanya untuk pandai menuntut ilmu yang harus dikuasai oleh siswa, tetapi belajar juga mendalami cara bermoral yang baik. Hal yang dapat dilakukan guru dalam membimbing siswanya, dapat dilakukan dari kegiatan yang mudah dan sederhana.

Ketiga, seorang guru mempunyai kompetensi profesional. Di mana guru dapat menyampaikan materi ajar dengan baik dan mampu menguasai materi yang diberikan kepada siswa. Dalam menanamkan moral pada siswa guru dapat memberikan pendidikan karakter terkait dengan materi yang akan diberikan. Sekarang sudah disepakati bahwa setiap mata pelajaran harus terdapat pendidikan karakter. Tujuannya agar siswa mampu mengambil hikmah atau nilai setelah mendapatkan pelajaran tersebut dari guru.

Selain itu siswa juga dapat mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap mata pelajaran di kehidupan sehari-hari, sehingga ilmu tersebut dapat teringat dan dapat menjadi pengingat para siswa untuk kemudian melakukan hal-hal yang terbaik di setiap saat dan waktu dimana pun dan kapan pun..

Keempat, kompetensi yang juga tidak kalah pentingya harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi sosial. Sebagai seorang guru harus pandai berkomunikasi dan bersosialisasi dengan siswa, teman sejawat, kepala sekolah, dan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Peran guru di sini adalah mensosialisasikan kepada siswa terutama untuk mengenalkan perbuatan yang baik dan perlu di contoh.

Tanpa berkomunikasi dengan baik, guru tidak dapat menyampaikan segala aspirasinya dengan baik pula, karena setiap kepala, baik siswa maupun non-siswa akan menangkap atau menyimpulkan aspirasi tersebut denga berbeda-beda dan cenderung sederhana tanpa banyak pertimbangan. Oleh karena itu, seorang guru ahrus mampu menyederhanakan sedemikian rupa untuk berkomunikasi dengan peserta didik khususnya.

***

ditulis oleh Ade Fajri (Penerima Manfaat Beasiswa Generasi Harapan)

Opini ini diterbitkan oleh Harian Berita Pagi pada hari Rabu, 21 November 2018

Hits: 0

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *